Kebudayaan adalah bagian hidup dari manusia. Kelompok manusia yang hidup dengan budaya pasti menjadikan budaya sebagai unsur utama dalam setiap bagian-bagian dalam hidupnya, contoh nyatanya ada di dalam adat tradisi. Sebagai salah satu dari wujud ideal kebudayaan, adat tradisi yang abstrak dan tak dapat diraba menjadi sebuah hal yang membutuhkan pemajuan. Masyarakat Jawa menjadi salah satu masyarakat yang masih melestarikan dan hidup dalam adat tradisi. Setiap moment-moment krusial pasti beriringan dengan adat tradisi.

Nyadran adalah salah satu dari banyaknya contoh tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa dalam suatu moment krusial. Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sraddha yang artinya keyakinan. Tradisi nyadran sering disebut juga sebagai tradisi ruwahan. Ruwahan berasal dari kata Ruwah (salah satu bulan dalam penanggalan Jawa) atau jika dalam kalender Hijriyah bersamaan dengan bulan Sya’ban. Tradisi nyradran ini dilakukan sebelum bulan Ramadhan tiba. Kegiatannya berupa pembersihan makam, pengiriman bunga dan doa pada makam leluhur, serta makan bersama. Tradisi ini merupakan wujud dari penyucian diri menuju bulan suci Ramadhan.

Sadranan Tamanan atau biasa disebut Sadranan Nemlikuran adalah salah satu upacara adat sadranan yang dilaksanakan di Dusun Tamanan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, DIY. Seperti halnya upacara adat sadranan yang lain, upacara sadranan ini dilaksanakan sebelum bulan Ramadhan tiba, yaitu pada bulan Ruwah (salah satu bulan dalam penanggalan Jawa) atau jika dalam kalender Hijriyah bersamaan dengan bulan Sya’ban. Sadranan di Dusun Tamanan ini biasa juga disebut “Nyadran Nemlikuran”. Arti dari nemlikuran disini adalah penjelas bahwa tradisi sadranan ini dilakukan pada sekitar tanggal enem likur atau 26 (dua puluh enam) penanggalan Jawa. Tetapi dalam pelaksanaannya, karena di Dusun Tamanan ini terdapat 3 makam yang secara teritori terbagi menjadi makam timur dan makam barat, maka sadranan (terutama prosesi nyekar) dilakukan tidak hanya tanggal 26 saja tetapi juga dilakukan di tanggal 23. Pelaksanaannya biasanya dilakukan secara selang-seling dari tahun per tahun. Kegiatannya berupa pembersihan makam, pengiriman bunga dan doa pada makam leluhur, serta makan bersama.

 Sejarah

Upacara Sadranan Tamanan sudah dilaksanakan sejak dahulu. Hal ini didukung dengan adanya jodhang yang terdapat tulisan tahun (belum diketahui lebih lanjut). Tujuan sadranan ini adalah sebagai pengingat ‘sangkan paran’ atau asal mula. Dengan mengingat asal mula, diharapkan dapat mengetahui dari siapa dan dari mana kita berasal. Perlu ditekankan juga bahwa tujuan dalam sadranan ini bukan untuk berdoa dan meminta pada arwah para leluhur, namun untuk mendoakan arwah para leluhur. Sebagai manusia yang masih hidup di dunia fana, kita tidak tahu arwah para leluhur mendapatkan nikmat kubur atau siksa kubur. Maka dari itu, menjadi kewajiban kita untuk mendoakan mereka. Selain itu, sadranan juga menjadi sarana untuk merekatkan tali persaudaraan antar warga masyarakat.

Tradisi nyadran pada umumnya memiliki kegiatan yang sama. Namun sedikit berbeda dengan nyadran yang ada di Tamanan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman. Banyak keunikan yang membedakan tradisi nyadran di Dusun Tamanan ini berbeda dengan tradisi nyadran di daerah lain. Nyadran disini biasa juga disebut “Nyadran Nemlikuran”. Arti dari nemlikuran disini adalah penjelas bahwa tradisi nyadran ini dilakukan pada sekitar tanggal enem likur atau dalam bahasa Indonesia artinya tanggal 26 (dua puluh enam). Warga masyarakat yang datang mengikuti nyadran menggunakan pakaian adat Jawa, sambil membawa dengan disunggi sebuah tenong berisi makanan, buah-buahan, dan jajan pasar. Isi dari tenong ini nantinya akan dibuka dan di makan bersama-sama di akhir acara. Tata cara pelaksanaanya, di awal acara para warga berkumpul di suatu tempat yang telah disepakati, untuk meletakkan tenong yang dibawa. Di tempat itu pun sudah ada jodhang (semacam tandu untuk meletakkan makanan) yang juga sudah disiapkan oleh warga. Letak jodhang berada di depan sendiri berdekatan dengan tempat duduk para pamong kalurahan dan pemuka agama, sedangkan tenong diletakkan tepat di depan tempat duduk warga. Acara dimulai di tempat yang sama dilanjutkan dengan pentas seni dari sanggar kesenian setempat. Setelah itu, para warga kirab/berjalan bersama dan berarak-arakan sambil membawa bunga menuju makam untuk nyekar (tabur bunga) dan mendoakan arwah para leluhur. Setelah selesai mengirim doa di makam leluhur, warga kembali ke tempat berkumpul tadi. Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari perangkat desa, dilanjutkan dengan doa bersama dipimpin oleh pemuka agama. Acara terakhir tradisi nyadran di Dusun Tamanan ini adalah membuka jodhang dan tenong untuk makan bersama. Makanan boleh diambil dari tenong atau jodhang yang mana saja. Sedikit berbeda dengan tenong, untuk isian jodhang lebih lengkap, oleh karenanya jodhang diletakkan didepan para perangkat desa dan pemuka agama agar bisa dinikmati, namun warga pun boleh maju untuk mengambil makanan yang ada di jodhang tersebut. Tentu sebagai wujud penyucian diri, upacara nyadran di Dusun Tamanan ini adalah wujud kebersamaan dan keguyuban baik antarwarga maupun antara warga dengan pemimpinnya.

Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan Sadranan Tamanan jatuh pada tanggal 23 atau 26 bulan Ruwah (berdasarkan penanggalan Jawa). Prosesi utamanya dapat dilaksanakan antara tanggal 23 atau tanggal 26, biasanya bergantian. Misalnya pada tahun ini dilaksanakan di tanggal 23, tahun depan dilaksanakan di tanggal 26. Hal ini dikarenakan, Dusun Tamanan mempunyai 3 makam yang secara teritori terbagi menjadi makam timur dan makam barat. Jika makam timur melaksanakan sadranan di tanggal 23, jika makam barat melaksanakan sadranan di tanggal 26. Tetapi walaupun, misalnya prosesi utama sadranan dilaksanakan pada tanggal 26, di tanggal 23 sudah dilaksanakan ‘nyekar’/ ziarah tabur bunga di makam timur. Namun di tanggal 26, tetap mengikuti prosesi utamanya.

Upacara Sadranan Tamanan ini diawali dengan rapat persiapan berupa musyawarah padukuhan beberapa bulan sebelum pelaksanaan. Kemudian sekitar 5 hari sebelum hari pelaksanaan, diadakan acara ‘besik’/‘reresik makam’ yang artinya adalah bersih-bersih makam. Hal ini bertujuan agar saat pelaksanaan sadranan, makam sudah bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Saat hari pelaksanaan, di pagi harinya para warga sudah mulai ‘nyekar’ atau ziarah makam tabur bunga. Kemudian saat setelah sholat dzuhur atau sekitar jam 1 siang, para warga berkumpul ke tempat yang sudah disepakati (dahulu menggunakan kenthongan, sebagai pertanda sudah waktunya berkumpu). Tidak terbatas pada umur dan jenis kelamin, semua warga di Dusun Tamanan datang berkumpul dengan ujub dan tujuan yang sama. Para warga datang dengan baju adat Jawa gagrag Ngayogyakarta sambil membawa ‘tenong’ berisikan makanan dan jajajan pasar. Para warga lain yang mempunyai strata ekonomi/jabatan yang lebih tinggi biasanya akan membawa ‘jodhang’ yang isinya jauh lebih beragam dari ‘tenong’. Setiap RT juga membawa 1 ‘jodhang’ untuk dibawa ke tempat yang telah disepakati tersebut. Setelah semua warga berkumpul, dimulailah acara dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu warga yang dipercaya sebagai ‘rois’. Isi doa, pada intinya adalah wujud syukur dan meminta kesejahteraan pada Tuhan, juga doa untuk arwah para leluhur supaya diampuni dosanya. Setelah doa bersama selesai, para warga dipersilahkan untuk menyantap makanan yang sudah dibawa dalam ‘tenong’ maupun ‘jodhang’. Tenong yang dipilih pun tidak harus selalu milik sendiri, boleh mengambil isi ‘tenong’ yang dibawa oleh warga yang lain. Secara kasarnya, para warga saling berebutan untuk mengambil tenong/jodhang yang diincar. Walau terkesan ricuh, namun inilah yang menjadi keseruan dalam acara Sadranan Tamanan ini. Setelah isi tenong dan isi jodhang habis, para warga dipersilahkan untuk pulang. Bagi warga yang belum ‘nyekar’, dipersilahkan untuk ‘nyekar’ setelah upacara sadranan ini selesai.

Prosesi Sadranan Tamanan ini tentu mengalami perubahan dari masa ke masa. Masa sebelum pandemi dan setelah pandemi pun juga banyak mengalami perubahan dan penyesuaian. Dalam hal prosesi, yang cukup berbeda adalah dengan adanya arak-arakan atau kirab. Urutan prosesi pun berbeda. Setelah jam 1, warga sudah berumpul di tempat yang telah ditentukan sambil masing-masing membawa tenong. Namun jodhang belum sampai di tempat tersebut. Jodhang yang sudah dikumpulkan di tempat yang berbeda, kemudian diarak bersama ‘bregada’ (prajurit yang mengarak barisan) menuju tempat utama. Setelah sampai ke gerbang tempat utama, ‘pandhega bregada’ atau pemimpin arak-arakan lapor kepada Pak Dukuh bahwa jodhang sudah siap, lalu Pak Dukuh akan memberikan perintah untuk menata jodhang ditempat yang sudah disediakan. Setelah semua jodhang tertata, para ‘bregada’ kemudian berbaris (seperti pagar betis) mengelilingi kumpulan warga yang sudah duduk dan bersiap mengikuti sadranan. Acara kemudian masih diawali dengan sambutan dari Pak Dukuh dan atau Pak Lurah. Setelah itu dilanjutkan dengan pentas seni dari sanggar setempat. Baru kemudian dimulai doa bersama. Setelah doa bersama, kemudian masih ada arak-arakan lagi menuju makam. Para warga yang mengikuti arak-arakan masing-masing membawa bunga yang nantinya akan dipakai untuk ziarah di makam tersebut. Setelah ziarah selesai baru kemudian berkumpul kembali di tempat utama dan makan bersama. Perubahan-perubahan ini ada sebagai penyesuaian dan kemasan yang baru yang sudah dimofifikasi, terkhusus di pelaksanaan sadranan saat setelah pandemi.

Ubarampe isi jodhang:

–        Sega gurih atau sega wuduk –        Bergedel
–        Sega wajar –        Buah pisang raja
–        Ingkung –        Jadah
–        Dhele hitam –        Wajik
–        Kacang –        Satu (kue dari beras yang berbentuk seperti nisan)
–        Kobis –        Jajan pasar (brondong jagung, roti bolu, kacang bawang, dan bolu mprit)
–        Peyek, ntho-ntho, krupuk –        dan lain-lain

 

Isi tenong: Jajan pasar, buah pisang, peyek, dan lain-lain.

Dilihat dari sifat kebudayaannya, sadranan makam tamanan merupakan salah satu bentuk ritus yang dari tahun ke tahun dilakukan oleh masyarakat setempat. Adapun dikarenakan sifatnya yang masih memiliki kesakralan mengingat di dalamnya ada bentuk penghormatan masyarakat terhadap leluhur melalui kegiatan nydaran (mendoakan makam leluhur), maka masih ada perhatian dari warga setempat untuk berhati-hati dalam memodifikasi ritus tersebut. Meskipun demikian, pada dasarnya tidak menutup kemungkinan bahwa ada wujud-wujud perubahan di dalamnya yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Satu hal yang diperhatikan oleh warga setempat adalah substansi dari tujuan ritus tersebut yaitu wujud penghormatan terhadap para leluhur dengan mendoakan arwahnya serta wujud gotong royong dengan bersantap bersama setelah memanjatkan doa terhadap leluhur mereka.