Terdapat satu hal yang sekiranya menjadi karakteristik dari Dusun Tamanan, Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Di wilayah tersebut, sebuah sistem pendidikan karakter didirikan untuk mengajarkan seluruh tata krama dalam budaya Jawa. Sanggar Memetri Wiji merupakan tempat yang dijadikan oleh warga setempat untuk tetap mempertahankan tata krama budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan jika sanggar ini merupakan salah satu bentuk hadirnya dari sekolah alternatif atau non-formal yang menawarkan seluruh konsep pendidikan di samping hadirnya sekolah yang diakui secara administratif oleh pemerintah. Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Objek Pemajuan Kebudayaan, hadirnya sanggar ini terklasifikasi pada salah satu unsur sepuluh jenis kebudayaan, yaitu adat istiadat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sistem pendidikan yang secara garis besar mengajarkan budi pekerti atau unggah-ungguh dalam budaya Jawa melalui tata cara berperilaku, membaca dan menulis aksara Jawa, menembangkan macapat, serta penanaman nilai-nilai moral melalui permainan anak (dolanan).
Sejarah
Sekolah ini didirikan sejak Juni 2012 atas dasar keresahan terhadap perkembangan karakter anak muda yang semakin jauh dari tatanan budaya Jawa. Selain itu, banyak pula kalangan masyarakat yang mengeluhkan tentang tata krama Jawa yang sudah mengalami degradasi nilai dalam pengimplementasiannya di kehidupan sehari-hari. Penggagas dari sekolah ini yaitu Tri Joko yang juga menjadi salah satu abdi dalem Keraton Yogyakarta. Sekolah ini pada awalnya bertujuan untuk mendidik anak-anak usia sekolah dari mulai TK sampai SMA yang ingin tetap menjaga perilaku tata krama sesuai budaya Jawa. Sejak awal didirikan, sanggar ini memiliki sejumlah 15 peserta didik. Namun, seiring berkembangnya waktu, banyak pula usia remaja hingga dewasa yang berminat menimba ilmu di sanggar ini. Pada dasarnya tidak ada ikatan atau aturan yang mengekang antara peserta didik dan sanggar, sehingga hal ini membuat jumlah peserta mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, Memetri Wiji didirikan secara inklusif bagi siapapun tanpa memandang usia, gender, maupun status sosial. Meskipun demikian, keadaan tersebut tidak membuat Sanggar Memetri Wiji ini merasa terancam eksistensinya. Tri Joko Saptono justru semakin antusias dan yakin bahwa dengan adanya sebuah tempat yang mengajarkan unggah-ungguh budaya Jawa secara inklusif dan tidak berlandaskan profit, kelak akan selalu ada masyarakat yang sadar dan membutuhkan sistem pendidikan karakter tersebut.
Menurut Tri Joko Saptono, nama Memetri Wiji sendiri mengacu pada upaya untuk menjaga dan merawat benih-benih perilaku tata krama budaya Jawa. Hal ini merujuk pada kata Memetri yang berarti ‘merawat’ atau ‘menjaga’, sementara kata wiji berarti ‘benih’ di dalam bahasa Jawa. Benih yang dimaksud yaitu segala bentuk perilaku yang sesuai tata krama dalam budaya Jawa (unggah-ungguh) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, benih tersebut pada dasarnya tidak hanya ditanamkan kepada anak-anak usia dini. Adapun benih yang dimaksud dapat tetap ditanamkan kepada semua orang yang tetap ingin menjaga dan melestarikan perilaku unggah-ungguh tersebut.
Sistematika Pelaksanaan
Sistem pendidikan pada sanggar Memetri Wiji dilakukan setiap hari Minggu pada pukul 15.00-17.00 wib. Adapun materi yang diajarkan yaitu seputar tata cara berperilaku seperti penggunaan bahasa yang sopan (krama), cara berjalan dengan berjongkok (laku ndhodhok), tembang macapat, tembang dolanan. Selain itu, terdapat pula pengajaran tentang membaca dan menulis aksara Jawa serta praktik gamelan. Di dalam pelaksanaannya, peserta didik tidak dipungut biaya dan media alat tulis disediakan oleh sanggar ini secara gratis.
Pengajar yang dihadirkan untuk mendidik para siswa sanggar ini pada awalnya merupakan keluarga dan kerabat dari Tri Joko Saptono. Namun, kini Sanggar Memetri Wiji juga menerima relawan bagi siapapun yang ingin mengajar di tempat tersebut. Konsep yang diusung sanggar ini dengan mempertahankan pendidikan karakter berdasarkan unggah-ungguh budaya Jawa menarik simpati beberapa instansi seperti sekolah maupun dinas pemerintah. Hal ini diutarakan oleh Tri Joko Saptono yang mengatakan bahwa dirinya pernah diundang beberapa kali untuk melakukan sosialisasi konsep pendidikan karakter unggah-ungguh budaya Jawa sebagai model untuk dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah maupun menjadi kebijakan bagi dinas pemerintahan terkait sistem pendidikan pada anak. Meskipun demikian, ternyata tidak hanya para siswa, konsep ini juga disosialisasikan oleh Tri Joko Saptono kepada para guru sekolah maupun para pegawai di dinas pemerintahan. Beberapa kali juga pihak sekolah meminta Sanggar Memetri Wiji untuk berkolaborasi dalam membentuk pembelajaran budaya Jawa bagi anak-anak sekolah, khususnya perihal pembelajaran tata krama atau unggah-ungguh.
Adapun bertahannya sanggar ini merupakan atas usaha dari penggagas dan menggunakan cara swadaya yaitu dengan dana sendiri. Seluruh sumber pendukung berupa infrastruktur juga memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh Tri Joko Saptono secara swadaya. Misalnya, tempat untuk melaksanakan pendidikan pada sanggar Memetri Wiji yaitu menggunakan kediaman Tri Joko Saptono berupa rumah joglo yang memiliki halaman cukup luas.
Keberhasilan sanggar ini untuk tetap memperkenalkan dan mengajarkan seluruh konsep dasar unggah-ungguh budaya Jawa menghasilkan sebuah penghargaan. Pada tahun 2019, Kabupaten Sleman berhasil memperoleh predikat Nindya sebagai kota atau kabupaten layak anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berkat kehadiran sanggar Memetri Wiji.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sekiranya sanggar ini menjadi salah satu aspek yang patut untuk ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda di Kecamatan Kalasan, Sleman. Dalam hal ini, hadirnya Sanggar Memetri Wiji dapat menjadi refleksi tentang pentingnya pendidikan berkarakter pada masa kini. Secara konkret, sistem pendidikan pada Sanggar Memetri Wiji dapat menjadi sebuah percontohan bagi kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya, khususnya di wilayah Yogyakarta. Selain itu, pentingnya sanggar ini bagi masyarakat yaitu dapat menjadi penangkal terhadap berbagai ideologi maupun perilaku menyimpang, terutama kenakalan remaja yang hingga kini masih hadir di lingkungan masyarakat, khususnya di wilayah Yogyakarta.