‘Padukuhan bangsawan dan abdi dalem’. Label itu pas dan tepat bagi Padukuhan Sentono, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman.

Sentono sebenarnya dulu hanya nama wilayah ‘wahilan’ (lingkungan kelompok kenduri) di bagian utara wilayah padukuhan. Yaitu Sentono, Gejawan, Tengahan dan Kulonan. Empat ‘wahilan’ tersebut merupakan bagian wilayah Padukuhan Tulung, Kalurahan Tamanmartani. Pemekaran wilayah terjadi pada era Padukuhan Tulung dipimpin Dukuh R. Prawirodiharjo awal tahun 1970-an. Setelah dimekarkan menjadi padukuhan sendiri, Sentono dipimpin Dukuh Joyo Sumedi dan saat ini dijabat Suhartono (52)

Disebut ‘wahilan’ Sentono, karena di wilayah ini terdapat makam pejabat Keraton Yogyakarta. Juga sebagian warga pada zaman dulu ikut mengabdi pada keluarga ‘ndoro’ Keraton Yogyakarta. Mereka yang mengabdi tersebut bernaung di bawah pemerintah Demang Wiryorejo, yang saat itu berkedudukan di wilayah Tulung, Tamanmartani. Karena banyaknya abdi dalem, wilayah ini kemudian dikenal sebagai Sentono. Sentana berarti kerabat raja (bangsawan).

Sejarah panjang Padukuhan Sentono tidak bisa lepas dari KRT Mangundipura I, petinggi Keraton Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dikenal memiliki kharisma dan kesaktian tinggi. Menurut cerita tutur, KRT Mangundipura I memimpin delegasi penegasan tapal batas antara Keraton Surakarta dengan Keraton Yogyakarta, yang saat itu ditetapkan membujur ke utara dan selatan dari Prambanan sampai Kemalang, Klaten. Tapal batas tersebut digunakan sampai sekarang. Dulu tapal batas Yogya-Solo di Kali Lusah, sebelah barat PG Gondang Klaten

Setelah Perjanjian Giyanti sering terjadi konflik tentang tapal batas. Ada upaya menggeser batas yang dilakukan pihak Solo atas bujukan Belanda. Konflik tersebut reda setelah diadakan pembicaraan antara dua keraton di mana KRT Mangundipuro 1 sebagai delegasi Yogyakarta.

Tokoh lain yang bermakna bagi Padukuhan berpenduduk 500 jiwa ini adalah Demang Wiryorejo, kerabat juga anak buah KRT Mangundipuro I.

Menurut Daryanto Widagdo, canggah Demang Wiryorejo, sesuai silsilah Keraton Yogyakarta, Wiryorejo merupakan keturunan ke-6 Amangkurat IV atau Amangkurat Djawa, raja Mataram yang saat itu berkedudukan di Kartasura. Demang Wiryorejo merupakan cucu KRT Bahumirama yang dikenal dengan Kyai Lembusari, ahli besi Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Empu pusaka Kyai Lembusari saat itu diberi kedudukan di wilayah Kemudo, Pandansimping, Prambanan, Klaten. Kisahnya ada di novel sejarah Purasani karya pujangga Keraton Solo KRT Yasa Widagdo.

Demang Wiryorejo berkedudukan di Tulung. Menempati rumah joglo Jawa yang sederhana. Di halaman rumah joglo Demang Wiryorejo tumbuh pohon kepel dan pohon sawo kecik.

“Sampai sekarang dua pohon tersebut masih hidup. Demang Wiryorejo membangun rumah joglo pada era perang Diponegoro sekitar tahun 1825,” terang Daryanto.

Joglo sudah tidak ada lagi. Ambruk tahun 2015 karena tidak terawat. Dari kecil hingga dewasa, Daryanto tinggal di rumah joglo tinggalan Demang Wiryorejo. Kini mukim di samping bekas jogjo tersebut.

Adanya pohon sawo yang berusia sangat tua tersebut, menguatkan dugaan perkiraan masa pembangunan rumah joglo. Dulu di tempat- tempat Pangeran Diponegoro bergerilya dan pernah singgah di lokasi tersebut, beliau konon menanam bibit pohon sawo kecik sebagai monumen perjalanan gerilya, sekaligus simbol ajakan menebar ‘kecik’ atau ‘kabecikan’ (kebaikan).

Rumah joglo Demang Wiryorejo berada di ‘wahilan’ Gejawan. Gejawan dimaknai sebagai ke-Jawa-an. Kurang lebih diartikan sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Jawa dalam hal ini Keraton Yogyakarta. Bekas wilayah ‘wahilan’ Gejawan saat ini menjadi wilayah RT 2 RW 1 Padukuhan Sentono.

Diterangkan Daryanto, Demang Wiryorejo pada zamannya memiliki kaki tangan yang disebut sentana atau disebut pula warga Gejawan.

“Mereka yang menjadi kelompok Gejawan ini pada masanya terikat sebagai warga pemerintahan Jawa (keraton). Mereka tidak terikat peraturan pemerintah kolonial Belanda. Termasuk terbebas aturan kerja paksa dan tanam paksa. Sebab menurut kisah, zaman dahulu ada sebagian warga wilayah yang kini bernama Padukuhan Sentono, dikirim ke luar pulau Jawa sebagai pekerja paksa pemerintah Belanda,” papar Daryanto.

Karena menjadi warga pemerintahan Jawa, keluarga Gejawan mendapat jatah tanah yang menurut sejarah tutur yang pernah disampaikan almarhum Supardiwinoto (saat itu Kabag Sosial Kalurahan Tamanmartani, Kalasan) buyut Demang Wiryorejo, separuh luas pembagian untuk warga yang terikat peraturan pemerintah penjajah Belanda.

Keberadaan makam Sentono di sisi timur laut Padukuhan Sentono di pinggir Kali Opak, bukti empirik adanya jejak sejarah keterikatan padukuhan ini dengan Keraton Yogyakarta. Di kompleks makam tersebut ditemukan nisan-nisan tua yang bentuk dan motif ukirnya diidentifikasi sebagai makam priyayi keraton. Juga dikuatkan gaya arsitektur makam yang identik bangunan makam keluarga keraton.

Banyak nisan tua yang tidak teridentifikasi, siapa tokoh yang dimakamkan di sana. Menilik bentuk dan ukiran batu nisannya, banyak yang menyerupai bentuk nisan zaman Kerajaan Pajang. Makam tersebut tidak teridentifikasi karena sudah ratusan tahun tidak ada keluarga keturunannya yang berziarah.

Namun ada beberapa makam yang teridentifikasi. Antara lain makam KRT Cokronegoro, yang berjuluk Cucuk Jaga Makutho. KRT Cokronegoro merupakan cucu buyut Panembahan Senopati, pendiri sekaligus raja pertama Mataram Islam. Keturunan KRT Cokronegoro juga dimakamkan di sana. Antara lain KRT Mangundipuro I, KRT Mangundipuro II dan KRT Mangunyudo (Bupati Bantul V).

Ada makam KRT Tirtowijoyo yang pada masanya petinggi Keraton Yogyakarta. Makam Sentono, oleh banyak orang disebut sebagai salah satu makam beraura kuat. Sering menjadi tempat ziarah bagi orang-orang yang memiliki hajat tertentu. Tempat yang dituju bertirakat terutama makam KRT Mangundipuro I.

Beredar kabar, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mendatangi makam Sentono. Info dari pengakuan anggota komunitas mobil yang mengaku mengawal ke lokasi. Namun Suhartono dan Daryanto tidak bisa memastikan kebenarannya. Karena tidak pernah dimintai izin dan kunci makam pada saat itu. Juru kunci yang pada saat itu sangat sepuh, juga tidak mengenali tamunya.

“Sampai sekarang masih ada yang tirakat (di makam KRT Mangundipuro I). Minimal tiap malam Jumat Kliwon ada yang datang (berziarah),” ungkap Suhartono (52), Dukuh Sentono yang berkali-kali mendengar cerita banyaknya orang menziarahi makam di wilayahnya itu.

Nisan makam KRT Mangundipuro I berbeda dari nisan umum. Tinggi. Satu meter lebih. Makam ini keramat. Jadi jujugan para perziarah yang ingin pangkat dan derajatnya terangkat naik. “Ada yang datang dari Jawa Timur, katanya disuruh guru spiritualnya, jika ingin berhasil hajatnya harus tirakat di makam itu. Pernah pula ada yang minta daun di makam  itu  untuk  menyembuhkan  penyakit, juga atas saran paranormalnya. Dan sembuh. Terbukti datang kembali ke sini, mengabarkan keberhasilannya,” tambah Suhartono yang menjabat Dukuh Sentono sejak tahun 2002 Jika ulang tahun Kabupaten Bantul, beber Suhartono, pegawai Pemkab Bantul selalu berziarah ke makam KRT Mangunyudo.

Dipaparkan Daryanto, dulu, bila keluarga kerabat keraton berkunjung ke Sentono, pulangnya membawa bingkisan cabe Jawa dan lempuyang. Cabe dan lempuyang bahan utama herbal cabe puyang yang konon minuman kegemaran KRT Mangundipuro I. Sehingga di kebun rumah joglo Demang Wiryorejo saat itu ditanami lempuyang dan cabe Jawa. “Sisa-sisa tanaman empon-empon (tumbuhan jamu- jamuan)di lokasi tersebut masih bisa dijumpai sampai tahun 1980- an. Namun karena dinamika zaman, tradisi tersebut kini sudah disederhana kan,” kata Daryanto.

Karena menjadi kesukaan, para peziarah yang sudah paham selalu membawa puyang, ditaruhi di atas batu nisan KRT Mangundipuro I.

Di kompleks makam Sentono secara garis besar dimakamkan tokoh tiga keluarga yang menjadi bagian sejarah keberadaan Padukuhan Sentono. Yaitu makam keluarga KRT Mangundipuro, keluarga Demang Wiryorejo dan keluarga Raden Lurah Iman Rejo.

R. Iman Rejo pada zamannya Lurah Tegalrejo, salah satu kalurahan yang kemudian bersama tiga kalurahan lain Tamanan, Bogem dan Cageran melebur menjadi Kalurahan Tamanmartani. Lurah Iman Rejo dikenal sebagai tokoh peduli seni budaya. Iman Rejo ayah Raden Ngabehi Noto Pandoyo (alm) yang dikenal sebagai juru supit Bogem. Lurah Tamanmartani saat ini, Gandang Hardjanata, cucu RNg Noto Pandoyo, cucu buyut Iman Rejo.

Pada masanya, Iman Rejo sering menggelar pergelaran wayang di pendapa rumah kediamannya. Tradisi pentas wayang serial Baratayuda dilanjutkan salah satu menantunya, R. Prawirodiharjo (alm.) yang menjabat Dukuh Tulung sebelum pemekaran Sentono, pada kegiatan merti desa.

Keturunan Noto Pandoyo masih melestarikan tradisi Nyadran setiap tanggal 20 Ruwah dengan menyelenggarakan ritual doa dan tahlil mengundang warga dan kerabat di kompleks makam keluarga Sentono. Dahulu setiap Nyadran 20 Ruwah, keluarga KRT Mangundipura yang hendak berziarah ke makam Sentono, selalu mampir di rumah joglo keluarga Demang Wiryorejo. Termasuk ketika ada keluarga KRT Mangundipura meninggal, jenazahnya terlebih dahulu disemayamkan di pendapa joglo keluarga Demang Wiryorejo.

Masa silam tidak seorang pun kuasa menghapusnya, kredo Rendra (alm.) yang tertulis di Sajak Seorang Tua untuk Istrinya. Sepak terjang para tokoh masa silam bermuara nyata pada kehidupan: ternikmati generasi masa kini, menjadi kebanggaan hakiki, pun tercatat dalam sejarah turun-temurun.

Keberadaan Padukuhan Sentono yang warganya berprofesi sebagai petani, wiraswasta, buruh dan pegawai negeri amsal empirik bergulirnya zaman yang tidak bisa lepas dari sentana masa lalu.

Penulis : Latief Noor Rochman